BAHAN AJAR
MATA KULIAH
Kimia TANAH
KODE PNT 2401
PENYUSUN:
EKO HANUDIN
LABORATORIUM KIMIA DAN KESUBURAN TANAH
JURUSAN
TANAH, FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS
GADAJAH MADA
YOYAKARTA
2004
I. PRINSIP DASAR KIMIA TANAH
A. Struktur Atom
Konsep atom sebagai pertikel terkecil dari suatu
bahan pertama kali dipostulatkan oleh Democritus atau Leucippus pada 425 SM.
Sedangkan teori atom
Sejak Crooks,
Thomson dll meneliti daya hantar listrik gas-gas langka, pengertian atom
direvisi, karena atom memiliki komponen-komponen sbb:
1. Elektron:
komponen yang bermuatan negatif
2.
Proton: pertikel bermuatan positif
dengan berat jauh lebih besar dari elektron.
3.
Neutron. Pada abad 20 ditemukan
komponen atom yang lain yang disebut Neutron yang memiliki bilangan massa 1 dan
bermuatan 0. Partikel yang memiliki massa sama dengan electron dan muatannya
sama dengan proton disebut positron.
Proton + Neutron merupakan inti atom (Nukleus).
Nukleus memiliki berat spesifik yang tinggi dan mengandung sebagian besar massa
dari seluruh atom.
Berat
Atom (BA) = Berat Proton (BP) + Berat Neutron (BN) + Berat Elektron
Berat
Elekron sering diabaikan shg BA = BP + BN
Contoh:
H = 1; Na = 23.
![]()
![]()


![]()
K![]()
![]()
3+ L K K
H He Li
Elektron
berada dalam orbit yang mengelilingi inti atom. Orbit pertama berada dalam sel
(shell) yang disebut sel K, sedangkan yang berikutnya disusun berdasarkan
urutan abjad sbb: K, L, M, N, O, P dan Q. Atom yg paling besar ukurannya adalah
uranium (238U) dengan 92 elektron yang tersebar dalam orbit-orbit
yang ada dalam sel K, L, M, N, O, P dan Q.
Sel K: hanya memiliki orbit 1s yang dapat memegang 2
elektron.
Sel L: hanya memiliki satu orbit 2s dan tiga orbit 2p
yang dapat memegang 8 elektron.
Sel M: dapat memiliki 18 elektron yang tersebar pada
masing-masing orbit yaitu: satu 3s, tiga 3p dan lima 3d.
Sel N: dapat memiliki 32 elektron yang tersebar pada
masing-masing orbit yaitu: satu 4s, tiga 4p dan lima 4d, dan tujuh 4f.
Jumlah
orbit = n2, jumlah elektron = 2n2 dengan n = bilangan
kuantum dasar.
Perbedaan
orbit-orbit dalam sel yang sama disebabkan oleh adanya perbedaan tingkat
energi. Energi makin meningkat dari orbit s ke orbit f. Bagaimanapun juga
energi dari orbit s pada sel N lebih rendah dari pada energi dari orbit d pada
sel M.
Diameter inti berkisar 1 x 10-19 s/d 1 x 10-12 cm.
Nukleus membawa muatan positif atau jumlah muatan proton secara kesluruhan,
masing-masing sebesar 1,6 x 10-19 C, sedangkan electron membawa
muatan negatif sebesar 1,6 x 10-19 C.
Elektron
dalam orbit terdalam terikat kuat dengan nucleus. Struktur dalam atom dapat
dirubah dengan partikel berenergi tinggi (sinar a atau
sinar X). Kebanyakan atom penataan energi pada bagian orbit luar mengalami
perubahan selama terjadi reaksi kimia. Elektron yang berada pada orbit luar ini
yang bertanggung jawab terhadap sifat-sifat kimia unsur. Selama perubahan ini
biasanya peran dari nucleus hanya pasif saja. Khusus untuk atom H mungkin suatu
kekecualian. Karena hanya memiliki 1 sel dan membawa 1 proton.
Suatu
atom yang kehilangan 1 atau lebih elektron pada sel luarnya disebut kation
(Faraday), keadaan atom seperti ini akan memiliki muatan bersih yang positif (a
net positive charge). Ketika suatu atom memiliki kelebihan elektron, yang tidak
terimbangi oleh muatan positif dari nucleus, maka dia memiliki muatan bersih
yang negatif, maka disebut sebagai anion.
B. Berat dan Massa
Atom
Bilangan massa atom adalah jumlah massa proton dan
neutron. Massa elektron diabaikan karena sangat kecil, dianggap kurang
signifikan dalam perhitungan berat atom total. Berat atom tidak diartikan berat
dalam arti yang sebenarnya. Berat atom hanya suatu angka yang mengacu pada
berat relatif dari berbagai macam atom, dan tidak ada referensi (patokan) yang
dianggap sebagai berat absolut. Hidrogen (H) asalnya ditandai memiliki berat
relatif (nisbi) 1, karena atom ini merupakan partikel dasar dan memiliki berat
paling ringan dibandingkan dengan seluruh atom yang lainnya. Atom yg paling
berat adalah uranium (U) yg memiliki berat atom 238. Ketika kita mengatakan
bahwa oksigen (O) memiliki BA = 16, artinya kita menyederhanakan bahwa unsur O
itu memiliki berat 16 kali dari berat H. Oleh karena itu tidak ada satuan berat
untuk bilangan tersebut.
BA hanya digunakan untuk satu unsur saja,
sedangkan senyawa memiliki berat molekul yang merupakan penjumlahan dari berat
atom dari seluruh unsur penyusunnya.
C. Bilangan Avogadro
Jumlah atom dalam
1 gram berat atom dari suatu unsur 6
x 1023 Angka ini disebut Bilangan Avogadro.(Lihat
Table)
|
Anasir |
Mol |
Berat
Atom atau Massa Atom |
Gram |
Jumlah partikel atau atom |
Berat 1 atom |
|
Ion H + Karbon (C) Na K Ca NaCl KCl CaCO3 C6H12O6
(Glukosa) |
1 1 1 1 1 1 1 1 1 |
1 12 23 39 40 58 74 100 180 |
1 12 23 39 40 58 74 100 180 |
6 x 1023 6 x 1023 6 x 1023 6 x 1023 6 x 1023 6 x 1023 6 x 1023 6 x 1023 6 x 1023 |
1,67 x 10-24 2,00 x 10-23 3,83 x 10-23 6,50 x 10-23 6,67 x 10-23 9,67 x 10-23 1,23 x 10-22 1,67 x 10-22 3,00x 10-22 |
Berapa
berat 1 atom H ?. Bila 1 gram atom H beratnya 1 gram, dan karena 1 gram atom H
mengandung 6 x 1023 atom. Berarti 1 atom H beratnya 1/6 x 10-23
= 1,67 x 10-24 gram. Jadi beratnya sangat kecil.
D. Valensi
Valensi suatu atom atau unsur adalah sifat yang
diukur dengan jumlah atom H yang dapat dipegang oleh satu atom dari unsur itu
bila bermuatan negatif atau dapat digantikan oleh satu unsur itu bila bermuatan
positif. Dalam istilah sederhana, valensi adalah suatu ukuran dari kemampuan
mengkombinasi dari suatu atom. Atom dengan kemampuan mengkombinasi paling kecil
dianggap memiliki valensi 1. Valensi merupakan jumlah keseluruhan dan berkaitan
dengan jumlah electron valensi dari atom yang membawanya. Elektron
valensi adalah elektron yang ditambat, hilang atau dipegang bersama dalam suatu
reaksi kimia.
|
Ion |
Jar-Jari (Å) |
Bil. Atom |
Berat Atom |
|
|
Kristalin |
Terhidrat |
|||
|
Si4+ Al3+ Fe2+ Fe3+ Ca2+ Mg2+ Ba2+ Li+ Na+ K+ Rb+ |
0,42 0,51 0,74 0,64 0,99 0,66 1,35 0,60 0,98 1,33 1,48 |
- 9 - 9 4,3 4,2 4 3,8 3,6 3,3 3,3 |
14 13 26 26 20 12 56 3 11 19 37 |
28,09 26,98 55,84 55,84 40,08 24,32 137,36 6,94 22,99 39,10 85,48 |
1 Å
(angstrom) = 1 x 10–8 cm atau 1 Å = 0,1 nm
Sumber Weast
(1972) dan Gast (1977).
E. Berat Equivalent
Berat equivalen = ![]()
Unsur yang masuk dalam suatu reaksi selalu mengalami
perubahan jumlah yang proporsional dengan berat equivalennya. Contoh penentuan
berat equivalen sbb:
1. Ion monovalen, 1
equivalen = 1 mol
2.
Ion polivalen, berat equivalen
bervariasi tergantung reaksinya.
H3PO4 H+ + H2PO4- 1 Eq = 1 mol
H3PO4 2H+ + HPO42- 1
Eq = 1/2 mol
H3PO4 3H+ + PO43- 1 Eq = 1/3 mol
3. Pengendapan dan
reaksi kompleks. Hubungan antara berat equivalen dan jumlah mol dapat dibaca secara
langsung dari reaksinya. Dalam analisis volumetrik yang mana sianida dititrasi
dengan perak (metode Mohr), reaksi yang terjadi sbb:
Ag+ + CN-
AgCN
Dalam kasus ini 1 Eq sama
dengan 1 mol. Bila menggunakan metode Liebig, titrasi CN dengan Ag akan
diperoleh titik akhir titrasi dengan reaksi sbb:
Ag+ + 2CN-
Ag(CN)2-
Akibatnya Eq dari CN sama
dengan 2 mol.
4. Reaksi
oksidasi-reduksi
a.). Fe2+ Fe3+
Eq
besi Ferro sama dengan 1 mol
b). Fe Fe3+
Eq logam besi sama dengan 1/3 mol
c). MnO4- Mn2+ atau
Mn7+ Mn2+
Eq Mn sama dengan 1/5 mol
Atau
MnO4- MnO2
atau
Mn7+ Mn4+
Eq Mn sama dengan 1/3 mol
Berat
Equivalen = ![]()
|
|
BE = BE = BE = BE = BE = BE = BE = BE = |
F. Normalitas
Jumlah equivalen
dari suatu senyawa yang dilarutkan ke dalam 1 liter pelarut disebut normalitas
(N). Bila 1 Eq ada dalam 1 Liter larutan disebut 1
Ikatan
kimia pada prinsipnya berasal dari interaksi antar elektron-elektron yang ada
pada orbit luar, atau orbit yang terisi sebagian atau orbit bebas dalam atom
lainya.
2.1.
Interaksi atom-atom logam (ikatan metalik/ikatan logam).
Dalam
interaksi antar atom logam, ikatan kimia dibentuk oleh gaya tarik
menarik-menarik elektron oleh inti (nucleus) yang berbeda. Asalnya elektron
milik satu atom yang ditarik oleh inti atom tetangganya yang bermuatan +, dan
elektron ini disharing dg gaya tarik yang sama oleh inti lain yang
mengitarinya. Akibat jumlah elektron valensi yang rendah dan terdapat jumlah
ruang kososng yang besar, maka e- memiliki banyak tempat untuk
berpindah. Keadaan demikian menyebabkan e- dapat berpindah secara
bebas antar kation-kation tersebut. Elektron ini disebut “delocalized electron”
dan ikatannya juga disebut “delocalized bonding”.
Elektron bebas
dalam orbit ini bertindak sebagai perekat atau lem. Kation yang tinggal berdekatan
satu sama lain saling tarik menarik dengan elektron sebagai semennya.
2.2. Ikatan
kovalen
2.2.1. Ikatan
dengan non logam
F = ![]()
F : Gaya tarik menarik atau tolak menolak
Q1 dan Q2 : Muatan partikel 1 dan 2
r : Jarak antara partikel 1 dan 2
k : Konstante dielektrik
Bila Q1 dan Q2 bermuatan sama, maka keduanya akan
tolak-menolak, sebaliknya bila Q1 dan Q2 bermuatan berlawanan akan terjadi
tarik menarik.
Perbedaan unsur non-logam dengan logam adalah tidak memiliki kelebihan
ruang kosong yang berenergi rendah untuk penyebaran elektron yang akan
disharing. Elektron yang dapat disharing dalam unsur non-logam tidak mengalami
“delocalised” seperti pada ikatan metalik (ikatan logam). Jadi elektron
ini tinggal terlokalisir dalam kedekatan antar 2 inti (ikatan kovalen).
Contoh: pembentukan H2 dari 2 atom H. Pada
molekul H2 ada 3 gaya yang bekerja yaitu:
a). Gaya tolak-menolak antara 2 inti
b). Gaya tolak-menolak antara 2 elektron
c). Gaya tarik-menarik antara inti dari satu atom dengan
elektron dari atom yang lainnya. Besarnya

H H
Ikatan
kovalen pada H2, 2 elektron disharing oleh 2 atom dan orbit dari 2
elektron itu juga disharing oleh 2 atom.
Ikatan
kovalen: gaya tarik-menarik bersih (net) yang terjadi ketika setiap atom
memasok 1 elektron yang tidak berpasangan untuk dipasangkan dengan yang lain,
dan ada satu ruang kosong untuk menerima elektron dari atom yang lain, sehingga
2 elektron ditarik oleh kedua inti atom tersebut.
2.2.2. Valensi
atau kekuatan penggabungan
Valensi suatu atom adalah jumlah ikatan
kovalen yang dapat terbentuk. Contoh: valensi H = 1, He = 0, F = 1, O = 2, Li
=1.
2.3. Ikatan
non-logam dengan logam
Pasangan elektron yang membentuk suatu
ikatan antara atom logam dan non-logam terletak pada orbit yang overlap antara
2 atom tersebut. Karena atom non logam tidak mempunyai ruang kosong dengan
energi rendah, maka elektron akan tersebar pada daerah orbit yang overlap.
Atom dari unsur yang berbeda memiliki
kemampuan yg berbeda dalam menarik pasangan elektron dalam suatu ikatan
kovalen.
F, O, Cl : kemampuan menariknya kuat
Na, K : kemampuan menariknya lemah.
Elektro-negativitas: kemampuan relatif suatu unsur
untuk memenuhi muatan listrik yang negatif.
2.4.
Ikatan ionic (elektro-valent, hetero-polar)
Ikatan ini berasal dari gaya tarik
elektrostatik antara ion yang bermuatan berlawnan [Kation (+) dan anion (-)].
(Hukum Coulomb)
Untuk sebagian besar unsur, proses pelepasan
atau penambatan elektron adalah proses endotermik (membutuhkan energi). Ini
berarti bahwa bentuk ion adalah kurang stabil dibandingkan atom yang tak
bermuatan.
Na Na+ +
(-) - energi
½O2 + 2
(-) O-2 -
energi
Senyawa yang memiliki derajat paling tinggi dalam ikatan ionik adalah yang
terbentuk oleh reaksi antara unsur alkali dengan halogen. Contoh: Na
+ Cl NaCl.
Keduanya
memiliki perbedaan elektronegativitas yang besar, sehingga pasangan elektron
yang membentuk ikatan lebih banyak tertarik oleh atom Cl.
Makin besar perbedaan elektro-negativitasnya makin besar
pula karakter ioniknya. Namun ada kekecualian untuk F dan Cs, F memiliki
elektro-negativitas paling kuat, sedang Cs memiliki elektro-negativitas paling
lemah, sehingga ikatannya tidak sepenuhnya ionik. Bagaimanapun juga ikatan
kovalen murni ada dalam molekul yang tersusun oleh molekul yang sama (H2,
Cl2, C-C) atau molekul yang tersusun dari atom yg memiliki
elektro-negativitas yang hampir sama, contoh: C-H.
2.5.
Kesimpulan.
Dari bermacam-macam ikatan dapat disimpulakn
sbb:
a). Senyawa dengan ikatan kovalen yang dominan, elektron
dari ikatan berada pada atom yang membuat ikatan. Diantara molekul yang
berbeda ada ikatan yang lemah yang disebut “
b).
Senyawa dengan ikatan metalik dan ionik yang dominan, ikatan itu dibuat oleh
elektron-elektron yang disharing. Dalam logam
Dalam bentuk padat, struktur ionik seperti
NaCl, setiap Na+ dikelilingi oleh 6 Cl pada jarak yang sama, setiap
Cl- dikelilingi oleh 6 Na+ juga pada jarak yang sama,
yang menunjukkan bahwa setiap Na+ ditarik oleh 6 Cl- dg
kekuatan yang sama, setiap Cl- juga ditarik oleh 6 Na+ dg
kekuatan yang sama. Bentuk pada ini hanya larut dalam pelarut polar (air) yang
dapat memutus ikatan ionik dengan sifat polaritasnya dan membentuk ion hidrat
(ion yang diseliputidengan mantel air).
3.1. Laju Reaksi
Laju reaksi tergantung laju
tumbukan antara molekul A2
dan B2 , laju ini
tergantung atas jumlah atau konsentrasi molekul A2 dan B2.
S1 = K1
(A2 ) (B2)
S1 = Kecepatan
reaksi
K1= Konstante
laju reaksi
Karena laju reaksi
proporsional dg kadar A2 dan
B2, maka ini juga proporsional dengan produk reaksi yang
dihasilkan. Pada saat yg sama AB juga cenderung untuk berubah menjadi A2 dan B2.
S2
= K2 (AB) (AB) = K2
(AB)2
AB yg terjadi 2 kali, jadi AB harus bertubrukan
untuk menghasilkan A2 dan B2.
![]()
A2 + B2 2AB
Bila kecepatan reaksi S1 dan S2 sama, maka reaksi
ini dikatakan dalam keseimbangan kimia.
S1
= K1 (A2 )
(B2) = S2 = K2 (AB)2
K1
(A2 ) (B2) = K2
(AB)2
K1/K2
= K = (AB)2/(A2 )
(B2)
2AB A2 + B2,
konstante keseimbangannya 1/K
Makna K, bila K > 1,
berarti reaksi melaju cepat dari kiri ke kanan, lemah dari kanan ke kiri; Bila
K = 1, berarti konsentrasi A, B dan AB sama; Bila K< 1, berarti reaksi cenderung
lebih banyak bergeser dari kanan ke kiri.
Dalam prakteknya nilai K
sering dinyatakan dengan pK = - log K
Contoh: K = 10-5,6 pK = 5,6
3.2. Normalitas
Normalitas
didefinisikan sebagai jumlah gram berat equivalen dari bahan terlarut dalam 1
liter larutan. Contoh:
1). 1 mol HCl direaksikan dg 1 mol NaOH, karena keduanya
mengandung jumlah molekul yang sama maka 1 mol menunjukkan berat 1 equivalen.
1 mol
HCl = 35,5 + 1 = 36,5 gr
1 mol
NaOH = 23 + 16 + 1 = 40 gr
Reaksi antara asam dan basa ini akan menghasilkan reaksi netralisasi yang
komplet. Karena keduanya senyawa monovalen, maka 1 N =
.
2). 2NaOH + H2SO4 Na2SO4 + 2H2O
Jadi 2 mol NaOH bereaksi dengan 1 mol H2SO4
Berat ekuivalen dari H2SO4
yang bereaksi dengan 1 mol NaOH adalah
2 + 32 + (4 x 16) = 98/2 = 49 gr. Jadi
normalitas H2SO4 dalam reaksi
itu 49gr/liter.
A. Komponen
Inorganik (Mineral Tanah)
Tanah merupakan
suatu kompleks yang terdiri atas komponen padat, cair dan gas. Sebagai contoh,
tanah geluh pasir (silt loam) yang memiliki tekstur ideal bagi pertumbuhan
tanaman, porsi komponen padatnya pada horison permukaan menempati volume
sekitar 50 % (45 % mineral dan 5 % bahan organik), komponen gasnya (udara) sekitar
20-30 % dan sisanya komponen air juga menempati sekitar 20-30 %. Tentu saja
agihan (distribution) gas dan air dalam ruang
Unsur-unsur
yang biasanya ditemukan dalam jumlah paling banyak adalah: O, Si, Al, Fe, C,
Ca, K, Na dan Mg. Ini merupakan unsur-unsur utama yang banyak ditemukan dalam
kerak bumi atau bahan endapan (sediments). Oksigen merupakan unsur yang paling
umum dijumpai dalam kerak bumi dan tanah. Unsur ini menyusun sekitar 47 %
berat kerak bumi dan lebih dari 90 % volume kerak bumi (Berry dan Mason, 1959).
Komponen inorganik
menempati lebih dari 90 % komponen padat dalam tanah. Komponen inorganik ini
memiliki sifat-sifat seperti ukuran, luas permukaan, dan karakter muatan yang
sangat mempengaruhi reaksi-reaksi kinetik dan keseimbangan serta proses-proses
yang terjadi dalam tanah.
Komponen
inorganik dalam tanah meliputi mineral primer dan sekunder (dijelaskan di
bawah) yang memiliki ukuran (diameter partikel) berkisar dari lempung (<
0,002 mm atau < 2 mm) sampai pasir kasar
(> 2mm) dan batuan. Table 2.2 menyajikan daftar mineral primer dan sekunder
yang banyak ditemui dalam tanah. Mineral didefinisikan sebagai senyawa
inorganik alam yang memiliki sifat fisik, kimia dan kristalin tertentu. Mineral
primer tidak mengalami perubahan sifat kimia selama proses pengendapan dan
kristalisasi dari lava yang meleleh. Mineral primer yang umum dijumpai dalam
tanah yaitu kuarsa dan feldspar. Sedang yang lainnya yang jumlahnya relatif
lebih sedikit yaitu piroksin, mika, amfibol dan olivin. Mineral primer berada
dalam fraksi pasir (partikel ukuran 2- 0,05 mm), dan debu (partikel ukuran 0,05
– 0,002 mm), dan mungkin juga fraksi lempung yang sedikit telah mengalami pelapukan.
Mineral sekunder merupakan hasil pelapukan mineral primer yang telah mengalami
perubahan struktur atau pengendapan kembali hasil pelapukan (dissolusi) dari
mineral primer tersebut. Mineral sekunder yang biasa terdapat dalam tanah yaitu
mineral aluminosilikat (seperti kaolinit dan motmorilonit), senyawa
oksida-oksida (contoh; gibsit, goetit, dan birnesit), bahan-bahan amorf (seperti imogolit dan
allofan), mineral sulfur dan mineral karbonat. Mineral sekunder biasanya
terdapat dalam fraksi lempung, tetapi fraksi debu kadang-kadang juga mengandung
mineral ini.
Fraksi atau komponen inorganik/anorganik biasanya berupa silikat dan
oksida. Biasanya dikenal 6 tipe silikat tanah berdasarkan susunan tetrahedra
SiO4 dalam strukturnya:
1. Siklosilikat: Lingkar tertutup atau lingkar ganda dari tetrahedra (SiO3,Si2O5).
Contoh:
Turmalin
2. Inosilikat: Rantai tunggal atau ganda dari tetrahedra (SiO3,
Si4O11). Contoh: Ampibol, piroksen, horenblende.
3. Nesosilikat:
Tetrahedra SiO4 terpisah. Contoh:
Contoh: Yakut, olivin, zirkon, topas.
4.
Filosilikat: Lembar tetrahedra
(Si2O5). Contoh: Klorit, illit, kaolinit, montmorillonit,
vermikulit.
5. Sorosilikat: Dua atau lebih tetrahedra berangkai (Si2O7,
Si5O16). Contoh: Epidot.
6. Tektosilikat:
Jaringan tetrahedra (SiO2). Contoh: Feldspar, zeolit.
Struktur Kimia Lempung
Identifikasi: X-ray Kristalin
dan amorf.
Z
Susunan keruangan atom yang menghasilkan satuan
pembangunan kristal disebut sel satuan.
(sumbu X, Y dan Z). Sel unit bersama-sama membentuk susunan kristal yang
disebut struktur kisi (kristal
sempurna mempunyai sel unit: 1 mm). Jarak antar bidang disebut jarak-d (d-spacing). Jarak dasar (001)
penting untuk difraksi X-ray
X

![]()
Mineral lempung
Filosilikat utama dalam tanah
|
Tipe lapisan |
Nama Kelompok |
Muatan persatuan rumus |
Mineral-mineral yang umum |
|
1 : 1 2 : 1 2 : 1 :1 Rantai |
Kaolinit-serpentin Pirofilit-talkum,
smektit, atau montmorillonit-saponit Mika Mike getas (brittle mica) Illit Vermikulit Klorit Poligorskit-sepiolit |
~ 0 ~ 0 0,25-0,6 ~ 1 ~ 2 2 0,6-1,9 Beragam - |
Kaolinit,
haloisit, krisotil, lisardit, antigorit Pirofilit,
talkum Montmorillonit,
beidelit, nontronit, saponit, hektorit, saukonit. Muskovit, paragonit,
biotit, plogopit Margarit, klintinit Illit Vermikulit Klorit Paligorskit, sepiolit |
Silikat dibangun melingkari
suatu tetrahedron-silika, dengan 1 atom O menerima 1 valensi dari Si. Untuk
melengkapi 2 valensi, O disambung dengan kation lain atau ke atom Si dari
tetrahedron-silika yang terdekat. Rangkaian tetrahedra silika menghasilkan 5
kelompok susunan struktur silikat di atas.
Mineral lempung silikat
dicirikan oleh struktur lembaran yang terbentuk dari lapisan yang tersusun atas
lembar-lembar tetrahedra silika dan oktahedra Al (Mg). Lembar-lembar tersebut
dikembangkan melalui jalinan 3 O dalam tiap tetrahedron dg unit-unit
tetrahedron terdekat. Dalam jaringan tetrahedra silika seperti itu 1 O tetap
tidak terimbangi secara listrik, untuk memenuhi divalen dihubungkan dengan Al
dalam koordinasi oktahedra. Lembar-lembar tetrahedron Si (T) dan oktahedron Al
(O) membentuk struktur lempung. Kelompok atau lapisan unit dikenal sbg sel unit, sedang susunan lengkap dari
satu lapisan ditambah bahan anar lapisan disebut struktur unit.
Keterangan: Kalau tunggal
disebut tetrahedron atau oktahedron kalau jamak disebut tetrahedra atau
oktahedra.
Mineral sekunder = mineral lempung. Mineral ini
berstruktur phyllosilicates dan berperanan sangat penting dalam reaksi-reaksi
kimia dalam tanah. Tersusun atas lembaran tetrahedra dan oktahedra.
Pd Si tetrahedral, Jarak ikatan Si-O = 0,162 nm, O-O =
0,264 nm. Tetrahedra diatur sedemikian rupa sehingga semua ujungnya mengarah
pada arah yang sama dan dasar dari seluruh tetrahedra ada pada bidang yang
sama. Tetrahedral diikat dari satu titik ke titik yang lain.
Lembar Al
oktahedral, jarak O-O
= 0,264 nm dan OH-OH = 0,294 nm. 1
lembar tetrahedral diikat oleh 1 lembar oktahedral menghasilkan lempung 1:1
atau T-O. Rumus kimia yang ideal untuk lempung 1:1 ini =
Si4IVAl4VIO10(OH)8
Bila 2 lembar tetrahedral berikatan dengan 1 lembar
oktahedral akan terbentuk lempung 2:1 (T-O-T). Rumus kimia yang ideal untuk
lempung ini Si8IVAl4VIO20(OH)4,
contoh: pyrophyllite. Ruang antar lapisan (interlayer space) dapat terisi oleh
kation atau air. Kation ini terikat secara oktahedral dengan gugus hidroksil,
contoh: klorit. Kation ini dapat berada sebagai kation individu atau bentuk
terhidrat, contoh pada mika, smektit dan vermikulit.
Berdasarkan jumlah lembar
T-O dalam satu lapisan dikenal tipe 1 : 1 (dimorfik, contoh: kaolinit), 2:1
(trimorfik, contoh: montmorillonit), 2:2 (tetramorfik, contoh: klorit) atau
2:1:1 (tetramorfik, contoh: paligoskit & sepiolit).
Tiap kelompok lempung dibagi
menjadi 2 subkelompok:
1). Dioktahedral, bila dua
dari tiga posisi oktahedral ditempati oleh Al3+
2). Trikoktahedral, bila
semua posisi oktahedral ditempati oleh Mg2+
Mineral Sekunder Utama
|
Mineral Utama |
Tipe Lapisan |
KPK (cmol(+)/kg |
Dijumpai pd Tanah |
|
Lempung amorf/parakristalin
SiO2.Al2O3.2H2O
SiO2.Al2O3.2,5H2O Lempung kristalin
2SiO2.Al2O3.2H2O
Al2O3. 2SiO2.4H2O
Al2O3.4SiO2.H2O+x
H2O
Lempung seskuioksida
Mineral silikat Kuarsa, n(SiO2) Kristobalit, n(SiO2) |
1:1 1:1 2:1 2:1 2:1 2:2 |
35 35 8 10 70 30 100 0 3 3 3 - - - |
Tanah Abu Volkanik, spodosolTanah Abu Volkanik,
spodosol Ultisols, oxisols, Alfisols Vertisols,
mollisols, alfisols Mollisols,
alfisols, spodosols, aridisols Mineral tambahan pada beberapa jenis tanah Mineral tambahan pada beberapa jenis tanah Oxisols, ultisols Oxisols, ultisols Oxisols, ultisols Mineral tambahan pada beberapa jenis tanah Mineral
tambahan pada tanah abu volkan |
Kelompok
Kaolinit (1:1)
Komposisi:
Al2O3:SiO2:H2O = 1:2:2, atau 2 SiO2.Al2O3.2H2O
per unit sel.
Rumus sel satuan: [Al2(OH)4
(Si2O3)]2, a = 5,14 Å, b = 8,93 Å, C = 7,37 Å
α = 91,8
0, β = 104,5 0, γ = 90 0

Karakteristik kaolinit:
- Jarak dasar kaolinit : 7,14 Å
- Subtituis isomorfik sangat sedikit
dan muatan permanen tipa sel satuan, jika tidak 0 / sangat kecil.
- akibat memiliki gugus OH yang
terbuka (dari situs oktahedra), kaolinit memiliki muatan negatif yang
berubah-ubah (tergantung pH).
- KPK rendah (1-10 meq/100 g)
- Ikatan struktural kokoh (ikatan H), mengakibatkan sifat tidak mudah hancur,
plastis, dan daya mengkerut dan mengembang rendah.
- Luas permukaan spesifik (7 – 30
m2/g)
- Pemanasan 500-550 0C,
menyebabkan puncak kurva difraksi X-ray hilang.
- Berbentuk heksagonal.
Anggota kaolinit:
kaolinit, dikit, nakrit, dan haloisit. Kecuali haloisit, mineral lainnya tak
mengembang dalam air. Banyak ditemui pada tanah: Ultisol dan oksisol dan juga
tedeteksi sebagai minerla pelengkap pada tanah Alfisol dan Vertisol.
Haloisit (1:1)
Komposisi: Al2O3.2SiO2.4H2O
Karakteristik:
- Struktur: mirip kaolinit,
bedanya: penumpukan lapisan yang tidak teratur dan ada 2 atau lebih lapisan
molekul air dalam ruang antar lapisan (jarak dasarnya 10,1 Å, dg pemanasan dp
menjadi 7,2 Å).
- Haloisit berubah menjadi
metahaloisit pada suhu 50 0C , namun jarak dasar d akan runtuh hanya
dg suhu 400 0C.
- Berbentuk pipa (tubular),
terakhir di Texas ditemukan berbentuk meja (tabular).
- Pola difraksi sinar-X dari
haloisit yang dipanasi pada suhu 105 oC hampir mirip dg kaolinit.
- Puncak kurva difraksi dasar
(001) melebar atau kurang lancip akibat penumpukan lapisan yang tidak teratur.
- Pembentukan dan stabilitas
haloisit dipengaruhi lengas tanah
Haloisit
dianggap sbg pengaktif (precursor) dari kaolinit karena pembentukan mineral ini
mengikuti tahapan sbb:
![]()
![]()
![]()
Batuan beku montmorillonit haloisit metahaloisit
kaolinit
Montmorillonit (lepung 2:1, mengembang/mengkerut)
Rumus:
Al2O3.4SiO2.H2O + x H2O
Lempung
dalam kelompok ini kadang-kadang disebut smektit. Istilah montmorillonit
dikhususkan untk silikat aluminium terhidrasi dg sedikit subtitusi.
Montmorillonit kualitas komersial sering juga disebut bentonit.
Anggotanya
dari subkelompok dioktahedra:
beidelit dan nontronit. Montmorillonit mempunyai Mg dan ion Fe3+ dalam posisi oktahedral sedang
beidelit secara idealnya tidak mengandung Mg atau Fe pada lembar oktahidralnya.
Ciri beidelit: kadar Al nya tinggi. Muatan silikat berasal dari subtitusi Si4+ oleh Al 3+. Nontronit mirip beidelit tetapi
seluruh Al 3+
digantikan oleh Fe3+
Anggotanya
dari subkelompok trioktahedra:
hektorit dan saponit
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Si Si Si Si
![]()
O OO O OO O
H2O
dan Kation-kation (K+ dll) dapat masuk ruang interlayer spacial
ini 4 Si 4 O 2 OH 4 Al 4 O 2 OH 4 Si 6 O
6 O
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
O OO O OO O
![]()
![]()
![]()
Si Si Si Si
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Al Al Al Al Al
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
OH O
O OH O
O OH
![]()
![]()
![]()
![]()
Si Si Si Si
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
O OO O OO O
Model Hoffman dan Endell
Ciri
montmorillonit =
- KPK:
seitar 70 me/100 g,
- Struktur sel unit: Satu lembar
oktahedral Aldiapit oleh dua lembar tetrahedra silika.
- Luas permukaan spesifik: 700-800 m2/g
(luas dispersi oleh air)
- Kemampuan mengembang dan mengkerut
menyebabkan lempung ini mampu menyemat ion-ion logam, dan senyawa-senyawa
organik.
- Sifat mengembang dan mengkerut
menyebabkan tanah bersifat plastis saat basah dan keras saat kering
(timbul rekahan). Tanah ini sulit
diolah.
- Jarak dasar d 10 Å (kering oven
105 oC), kalau kering udara 12,4-14 Å, bila disisipi glikol etilena
atau gliserol, jarak dasarnya jadi 17 Å.
Banyak
dijumpai pada tanah Vertisol, Mollisol dan Alfisol dan juga ditemuka pada
beberapa Entisol.
Illit
(2:1, tak mengembang).
Karakteristik:
- Termasuk mineral lempung bermika,
tetapi berbeda dg mika sejati yang terbentuk secara primer, sedang illit
terbentuk secara sekunder. Dikenal sebagai mika hidrous atau mika tanah.
Istilah illit untuk yang berbutir halus, sedang yang lebih kasar disebut mika
hidrous.
-
Komposisi kimia hampir sama dg muskovit, tetapi kandungan SiO2
lebih banyak. sedang K nya lebih sedikit.
H2KAl3O12 Al2O34SiO2H2O
+ xH2O
Muskovit Seri illit Montmorillonit
- Illit mengnadung K dalam ruang
antar lapis, sehingga lapisan-lapisan unitnya terikat lebih kuat dari
montmorillonit. Akibatnya ruang antar misel tidak berkembang ketika ada
penambahan air. Sifat kembang kerutnya tidak seintensif montmorilonit.
-
Kadar K: teoritis sekitar 9-10 %, di lapangan sering dijumpai berkisar
5-8 %.
-
Jarak dasarnya: 10 Å
- KPK: 30 meq/100 g
- Sifat fisiknya lebih dekat ke kaolinit
dari pada montmorillonit.
-
Ditemukan juga dalam fraksi lempung kasar (0,1-2 μm) punya
pengaruh memerosotkan stabilitas tanah.
- Didaerah ber CH tinggi cenderung Ilit
berubah jadi montmorillonit, sedang di daerah panas, struktur illit menjadi
lebih tidak teratur dan akan terbentuk kaolinit.
Illit banyak
ditemukan pada tanah Mollisol, Spodosol, Alfisol, Aridisol, Inseptisol, dan
Entisol.
Vermikulit
Kelompok
mineral ini berbentuk keping mirip dg mika seperti illit. Mineral ini berasal
dari rubahan mika. Ada 2 kategori:
a). Vermikulit sejati, tidak dianggap sbg
mineral lempung tetapi sbg mineral pembentuk batuan. Asal kata vermiculare atau vermicularis (latin)
artinya mirip cacing. Bila dipanasi dp berkembang menjadi 20-30 kali ukuran
aslinya.
b). Vermikulit lempung, Rumus kimianya:
22MgO.5Al2O3Fe2O3.22SiO24OH2O
atau Mg3Si4O10(OH)2xH2O
Cirinya:
- Puncak difraksi sinar X-nya pada 14 Å,
- Mg menempati posisi-posisi oktahedral
antara dua lembar tetrahedral silika (termasuk silikat magnesium aluminium).
- Strukturnya mirip klorit, bedanya pada
ruang antar sel terdapat lapisan molekul air setebal 5 Å, sedangkan pada klorit
diisi dg lembar brusit [Mg(OH)2].
- Pada lapis tetrahedra terjadi cukup
banyak subtitusi Si oleh Al yang menyebabkan muatan negatif (KPK) vermikulit
sangat tinggi atau paling tinggi diantara mineral-mineral lempung lainnya (150
meq/100 g). Bila pada ruang antar lapis hadir Al-hidroksi, biasanya KPKnya turun.
-
Kemampuan menjerap K+ dan NH4+ tinggi.
Biasanya Vermikulit ditemukan di tanah Ultisol,
Mollisol, dan Aridisol. Mineral ini terbentuk pada daerah berdrainasi baik,
berkebalikan dg montmorillonit yang memerlukan kondisi glei (drainasi buruk
atau suasana reduktif).
Klorit (2:2)
Rumus: (Mg,
Fe, Al)6(Si, Al)4O10(OH)8. Mineral
ini termasuk silikat magnesium-aluminium terhidrasi.
Cirinya:
- Lembaran oktahedra yang terdiri atas
Mg(OH)2 diapit oleh 2 lembar Si tetrahedra.
- Ruang antar misel ditempati oleh brusit,
sehingga muncul istilah lempung 2:2.
- Subtitusi isomorfik terjadi pada lapis
tetrahedra (Si diganti oleh Al) dan oktahedra (Mg dapat digantikan oleh Fe dan
atau Al). Tingkat subtitusi dinyatakan dg nisbah Fe2+/R2+, berdasarkan nilai ini dikenal 3 kelompok
klorit yaitu: (1). Klorit Fe
(kaya Fe); (2). Intermedeat; (3). Klorit Mg (kandungan Mg nya banyak dan Fe nya
kecil).
- Penggantian Mg oleh Al pada lembar
brusit menimbulkan muatan positif, tetapi akan menetralkan muatan negatif dari
lapian “mika”. Akibatnya nilai KPK nya rendah (10-40 me/100 g) dan total luas
permukaan: 70-150 m2/g.
- Kehadiran senyawa hidroksi pada ruang
antar lapis menjadi loka (tempat) penjerap anion, pada sisi lain malah
menurunkan penjerapan ion K+ dan atau NH4+.
- Jarak d (001): 14 Å
Klorit tidak
begitu banyak ditemukan di lapangan, tetapi biasanya dijumpai sebagai mineral
pelengkap dalam lempung pada tanah Alfisol, Mollisol dan Aridisol.
Interstartified clay minerals
Lempung
berkisi 2:1 dan 1:1 dapat saling melekat membentuk lempung intersratifikasi dg
ikatan dalam yang kuat, sedang ikatan antar keduanya lemah. Contoh:
smektit-kaolinit, smektit-talk, smektit-mika, klorit-smektit.
Allofan dan Imogolit
Allofan
terbentuk dari bahan abu volkanik. Tanah volkanik dicirikan oleh kandungan
allofan dan bahan organik yang tinggi dan memiliki BV (berta volum) rendah.
Nilai rasio SiO2/Al2O3 berkisar 0,84-2. Al
berada dalam bentuk kordinasi tetrahedral dan oktahedral. Imogolit memiliki
rasio SiO2/Al2O3 : 1, Al nya hanya berada
terkornasi secara oktahedral. Imogolit berbentuk nano-tube (seperti tabung
panjang, tampak seperti serat) dg diameter 20 nm. Allofan berbentuk hollow
spherical (seperti bola berlubang) dg diameter 30-50 nm.
Bentuk senyawa oksida, hidroksida
dan oksihidroksida.
Al,
Fe dan Mn oksida sangat penting peranannya dalam proses-proses kimia tanah,
akibat memiliki luas permukaan dan reaktivitas yang tinggi. Istilah oksida
biasanya mengacu pada pengertian hidroksida dan oksihidroksida dan hidrous
oksida. Biasanya senyawa ini berada sebagai penyelimut mineral fillosilikat,
campuran gel atau membentuk kompleks dg senyawa humik.
Beberapa bentuk oksida,
hidroksida dan oksihidroksida yang ditemuka dalam tanah
|
Al-oksida |
Fe-oksida |
Mn-oksida |
Ti-oksida |
|
Bayerit a-Al(OOH)3 Boehmit g-AlOOH Diaspor a-AlOOH Gibsit g-Al(OH)3 Korundum a- Al2O3 |
Akaganit b-FeOOH Ferrihidrit Fe10O15.9H2O Feroksihit d- FeOOH Goetit a-FeOOH Hematit a-Fe2O3 Lepidokrosit g-FeOOH Maghemit g- Fe2O3 Magnetit Fe3O4 |
Birnesit d-MnO2 Pirolusit b- MnO2 |
Anatase TiO2 Rutil TiO2 |
Al-oksida
Bentuk hidroksida lebih banyak ditemukan dari pd oksihidroksida. Hanya ada 2 oksida yang secara alami terbentuk di tanah: Gibsit (Al(OH)3, Al-hidroksida) dan Boehmit (g-AlOOH, Al-oksihidroksida). Diaspor dan Korundum juga dapat ditemukan tapi jarang. Al-oksida anhidrous mungkin ditemukan pada batuan beku atau metamorfik. Gibsit paling banyak ditemukan pd Oksisol dan Ultisols. Ciri Gibsit:
- Ion Al3+ menempati 2/3 dari ruang antara oktahedra yang mungkin lowong.
- Gugus OH satu lapisan hampir langsung berhadapan dengan gugus OH dari lapisan terdekatnya. Antar gugus OH dari lapisan terikat oleh ikatan H.
Besi-oksida
Satuan
struktur dasar seluruh Fe oksida adalah oktahedron. Setiap atom Fe dikelilingi
oleh 6 O atau ion O2- dan
Mangan-oksida
Menjadi
sumber Mn bagi tanaman. Oksida ini dp menjerap As3+ dan Cr3+.
Dalam tanah biasanya berada sebagai selaput partikel tanah, konkresi atau nodul
dg diameter 2 cm. Kebanyak Mn-oksida bersifat amorf. Birnesit biasanya
merupakan bentuk yang dominan.
Mineral Karbonat dan Sulfat
Kalsit (CaCO3),
Magnesit (MgCO3), Dolomit (Ca(Mg)CO3, Ankerit [(Ca, Fe,
Mg)2(CO3)2], Siderit (FeCO3) dan
Rodokrosit (MnCO3).
Mineral sulfat: gipsum (CaSO4.2H2O).
Kedua mineral ini sangat larut dan banyak ditemukan pada daerah arid dan
semiarid.
Mineral Silika
Rumus umum mineral silika: n(SiO2),
struktur: tektosilikat (jaringan), ke4 O berhubungan langsung dg atom-atom Si
tetangganya shg secara listrik seimbang. Ada 3 tipe mineral: kuarsa, tridimit,
dan kristobalit.
![]()
Si(OH)4 + OH Si(OH)3O- + H2O
pKa ± 9
Kelarutan
silika rendah (inert) pada pH 3 sampai pH 9 kelarutan tidak meningkat, hanya
pada pH > 9 silika akan larut.
Tingkat
kelarutan kuarsa < kristobalit < opal < silika amorf.
Senyawa oksida punya peran penting dalam
penjerapan kation atau anion:
- Jerapan spesifik (berkaitan dg ikatan
ion tipe kovalen), contoh: besi oksida untuk anion fosfat dan kation logam Cu,
Zn, Mn dan Pb. dikenal reaksi yang
disebut retensi atau fiksasi
- Jerapan nonspesifik (jerapan
elektrostatik)
Luas Permukaan lempung dan KPK.
|
Mineral |
Luas Permukaan Spesifik (m2 g-1) |
KPK (cmol kg-1) |
|
Kaolinit Haloisit Piropillit Talc Montmorilonit Dioctahedral Vermiculite
Trioctahedral Vermiculite Muskovit Biotit Chlorite Allofan |
7 – 30 10 – 45 65 – 80 65 – 80 600 – 800 50 – 800 600 – 800 60 – 100 40 – 100 25 – 150 100 – 800 |
2 – 15 10 – 40 – < 1 80 – 150 10 –150 100 – 200 10 – 40 10 – 40 10 – 40 5 – 350 |
Keterangan:
Luas permukaan ditentukan dg EGME (Etilen
glikol monoetil eter) atau dg adsorpsi N2.
Ditentukan dg metode penukar kation
(contoh: NH4-Ac, NH4Cl, BaCl2, NaCl dll)
Tipe muatan:
Muatan tetap (permanent charge) dihasilkan
oleh proses subtitusi isomorfik. Syarat terjadinya proses ini adalah selisih
muatan antara kation yang diganti dengan kation pengganti hanya 1 unit muatan,
ukurannya hampir sama, sehingga dalam penggatian kation tersebut tidak merubah
atau merusak struktur mineral lempung, contoh: Si4+ digantikan oleh
Al3+, Al3+ digantikan oleh Mg2+ atau Fe2+
dll.
Muatan terubahkan (variable charge):
muatan berasal dari gugus hidroksil pd lembar oktahedral yang mengalami
protonasi (bereaksi dengan H+ atau menambat proton) atau deprotonasi
(melepaskan H+) akibat perubahan pH lingkungannya. Reaksi protonasi
biasanya terjadi saat pH tanah turun (suasana asam), sebaliknya deprotonasi
terjadi saat pH naik (suasana basis).
pH0 = pH dimana muatan permukaan secara elektrik netral.
∆pH
= pH(H2O)- pH(KCl)
∆pH = positif koloid lempung dominan bermuatan negatif
∆pH = nol pH0
∆pH = negatif koloid lempung dominan bermuatan positif
KPK (Kapasitas Pertukaran Kation/
Cation Exchange Capacity)
KPK:
Kemampuan lempung atau bahan organik untuk menjerap atau menukarkan
kation-kation. Nilai KPK masing-masing jenis tanah berbeda tergantung:
kandungan lempungnya, tipe lempungnya dan kandungan bahan organik.
B. Komponen Bahan Organik Tanah
|
Istilah |
Pengertian |
Sisa organik
Biomassa
tanah Humus Bahan
organic tanah Senyawa
humat Senyawa
nonhumat Humin Asam
Humat Asam
Hematomelanik |
Sisa jaringan binatang dan tanaman yg
tidak terlapuk dan sebagian hasil dekomposisi Bahan organik yang
ada sebagai jaringan mikrobia hidup Keseluruhan senyawa
organic dalam tanah kecuali jaringan hewan dan tanaman yg tidak terlapuk Sama dengan humus Suatu seri senyawa
organic berberat molekul tinggi yang berwarna coklat sampai hitam dan
terbentuk dari reaksi sinteesis sekunder. Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan
bahan berwarna atau fraksi yang diperoleh atas dasar karakteristik
kelarutannya. Senyawa yang
dikenal dalam biokimia sebagai asam amino, karbohidrat, lemak, lilin, resin,
asam-asam organic. Fraksi bahan
organic tanah atau humus yang tidak larut dalam suasana alkalis. Bahan organic
berwarna gelap yang dieksrak dari tanah dengan berbagai reagen dan tidak
larut dalam asam encer. Bagian dari asam
humat yang larut alkohol |
Cl = Climate (iklim)
P = Parent material (bahan asal dari bahan
organic)
R = Relief (Letak bahan organic pada suatu
topografi tanah)
O = Organism (vegetasi, binatang dan mikroorganisme)
T = Time (waktu atau lamanya proses dekomposisi
dalam tanah)
Sifat Bahan organic dan
pengaruhnya terhadap tanah
|
Sifat |
Keterangan |
Pengaruhnya pada Tanah |
Warna
Retensi
Air Membentuk
kompleks dg mineral lempung Kelasi Kelarutan dalam air Daya sangga Menukar kation Mineralisasi Bereaksi dengan bahan-bahan kimia organik |
Menyebabkan
warna gelap pada beberapa tanah BO dapat memegang air 20 kali
dari beratnya Menyemen partikel tanah untuk
membentuk agregat Membentuk kompleks stabil
dengan Cu2+, Mn2+, Zn2+ dan kation polivalen
lainnya. Bahan organic (BO) tidak larut
akibat berasosiasi dengan lempung. Garam-garam dari kation di- dan trivalent
dengan bahan organic tidak larut,. BO yang diisolasi mungkin sebagian larut
dalam air. BO menunjukkan kemampuan
penyanggaan pada kisaran agak masam, netral dan alkali. Total kemasaman dari fraksi
humus berkisar 300 – 1400 cmol/kg Dekomposisi BO menghasilkan CO2,
NH4+, NO3-, PO43-
dan SO42-. Mempengaruhi bioaktivitas,
keberadaan dan kemampuan biodegradasi dari pestisidan senyawa kimia organic
lainnya. |
Dapat mempengaruhi kehangatan
tanah Membantu mencegah kekeringan
atau keretakan. Dapat untuk memeperbaiki sifat retensi air pada tanah pasiran Mendukung
pertukaran gas, menstabilkan sruktur, meningkatkan permeabilitas Mungkin meningkatkan
ketersediaan unsure mikro bagi tanaman Hanya sedikit BO yang hilang
oleh pelindian. Membantu mempertahankan reaksi
yang seragam dalam tanah Meningkatkan KPK tanah. 20- 70 % KPK tanah disumbang oleh BO. Sumber unsur hara bagi tanaman Mempengaruhi takaran pestisida
untuk mendapatkan pengendalian efektif |
Fraksionasi atas dasar
karakteristik kelarutan.
Humus
Diekstrak dg alkali
![]()
Humin (tak larut) Larut
Perlakuan
dg asam
![]()
![]()
![]()
Asam humat
(mengendap) Asam fulvat (larut)
Diekstrak dg alkohol dilarutkan kembali dg basa &
Elektrolit
![]()
![]()
Asam hematomelanik
Asam
humat abua-abu Asam humat coklat
(mengendap) (larut)
Komponen utama BO tanah: C (52-58%), O (34-39 %), H (3,3 – 4,8 %) dan N
(3,7-4,1 %).
BO tanah:
bahan nonhumat dan humat.
Bahan non humat: (KH, protein, lemak, asam amino, peptida, lilin, dan asam-asam organik
ber BM rendah). Bahan ini sangat mudah didekomposisi oleh MO.
Senyawa Humat (SH): suatu kategori umum dari senyawa organik yang dicirikan oleh warna kuning sampai
kehitaman, berberat molekul tinggi dan menunjukkan sifat refraktori. Senyawa
humat terdiri atas: Asam humat (AH), asam fulvat (AF) dan humin.
Beberapa gugus fungsional dari bahan organik
|
Gugus fungsional |
Struktur |
|
Gugus Asam Karboksil Enol Fenolik OH Quinon Gugus Netral Alkohol OH Eter Keton Aldehid Ester Gugus Basa Amin Amida |
R-C=O(-OH) R-CH=CH-OH Ar-OH Ar=O R-CH2-OH R-CH2-O-
CH2-R R-C=O(-R) R-C=O(-H) R-C=O(-OR) R- CH2-
NH2 R- C=O(-NH2-R) |
Keterangan: R = Alifatik
Ar=
Cincin aromatik
Kompleks
Senyawa Humat dan Fraksi mineral Tanah
Extensive studies have shown
that not much of the humic substances in soil is in
1.
As salts of low - molecular organic acids (acetate,
oxalate, lactate and others).
2.
As salts of humic substances with alkaline cations -
humate, fulvate.
3.
As chelate with metal ions.
4.
As substances held on clay mineral surfaces.
Salts of low - molecular
organic acids
Salts of low - molecular acids forms in result
of action of acids (acetic acid, oxalic acid, fumaric acid, lactic acid) on
minerals (magnesite, calcite, siderite and others) or salts of mineral acids
with Ca, K and others cations.
Salts of humic substances with alkaline cations
Salts of humic substances with alkaline
cations comprehensive of compounds:
humate (salts of
humic acids)
fulvate (salts of
fulvic acids)
They are the most characteristic compounds of
soil humic substances. The alkaline cations (Na+, K+, Ca2+,
Mg2+) are held primarily by simple cation exchange with COOH groups
(RCOONa, RCOOK etc.). The humate and fulvate occur in soil largely as mixture
with hydroxide of Fe and Al.
Chelate with metal ions
A chelate complex is formed when two or more
coordinate positions about the metal ion are occupied by donor groups of a
single ligand to form an internal ring structure. In soil role of ligands
fulfilment simple organic compounds and functional groups of humic substances.
The order of decreasing affinity of organic groupings for metal ions is
approximately as follows:
-O- > -NH2 > -N=N- > =N > -COO- > -O- > C=O
The order of decreasing ability of metal ions
to chelating is as follows:
Fe3+ > Cu2+ > Ni2+ > Co2+
> Zn2+ > Fe2+ > Mn2+
The complexing ability of humic and fulvic
acids results largely from their content of oxygen-containing functional
groups, such as COOH, phenolic OH and C=O group. Soil organic constituents form
both soluble and insoluble complexes with metal ions and thereby play a dual
role in soil. Low - molecular - weight compounds (biochemicals, fulvic acids)
bring about the solubilization of metal ions and affect their transport to
plant roots. In contrast, high - molecular - weight compounds (e.g. humic
acids) function as a "sink" for polyvalent cations. Natural
complexing agents are of considerable importance in weathering processes and in
the movement of sesquioxides into the subsoil.
Clay - organic complexes
The interaction of organic substances with
clay has a multitude of consequences that are reflested in the physical,
chemical and biological properties of the soil matrix. Several mechanisms are
involved in the adsorption of humic substances by clay minerals, the main ones
being:
van der Waals'
forces
bonding by cation
bridging
H - bonding
adsorption by
association with hydrous oxides
adsorption on
interlamellar spaces of clay minerals
Van der Waals' forces
Van der Waals' forces operate between all
molecules, but are rather weak. Essentially, these forces result from
fluctuations in the electric charge density of individual atoms. An
electrically positive fluctuation in one atom tends to produce an elecrically
negative fluctuation in a neigh-boring atom and a net attractive forces
results. Attractive forces resulting from these fluctuations are every pair of
atoms or molecules.

Adsorption caused by van der Waals' forces can
be of considerable importance in the adsorption of neutral polar and nonpolar
molecules, particulary those which are high in molecular weight.
Bonding by cation bridging
Since organic anions are normally repelled
from negatively charged clay surfaces, adsorption of humic and fulvic acids by
clay minerals such as montmorillonite occurs only when polyvalent cations are
present on the exchange complex. Unlike Na+ and K+,
polyvalent cations are able to maintain neutrality at the surface by
neutralizing both the charge on the clay and the acidic functional group of the
organic matter (e.g. COO-). The main polyvalent cations responsible
for the binding of humic and fulvic acids to soil clays are Ca2+, Fe3+
and Al3+. The divalent Ca2+ ion doesn't form strong
coordination complexes with organic molecules. In contrast Fe3+ and
Al3+ form strong coordination complexes with organic compounds. The
polyvalent cations act as a bridge between two charged sites.

For a long chain organic molecule, several
points of attachment to the clay particle are possible.
H - bonding
This is a linkage between polar groups of the organic molecule and adsorbed
water molecules or oxygens of the silicate surface through bonding with a
single H+ ion. The strengh of an individual bond is small, but they
are additive thus total adsorption energy can be appreciable. Rigorous drying,
such as by desication at the soil surface or consumption of available moisture
by plant roots, will tend to increase the bonding between humic material and
clay by eliminating hydration water and bringing the humic matter in closer
contact to the clay.

H-bonding
This is a linkage between polar groups of the organic molecule and adsorbed
water molecules or oxygens of the silicate surface through bonding with a
single H+ ion. The strengh of an individual bond is small, but they
are additive thus total adsorption energy can be appreciable. Rigorous drying,
such as by desication at the soil surface or consumption of available moisture
by plant roots, will tend to increase the bonding between humic material and
clay by eliminating hydration water and bringing the humic matter in closer
contact to the clay.

Adsorption by association
with hydrous oxides of Fe and Al.
For many soils, hydrous oxides are equal in importance to mica-type surfaces in
sorbing humic substances. When clay minerals are coated with layers of hydrous
oxides their surface reactions are dominated by these oxides rather than the
clay. Organic anions can be associated with the oxides by simple coulombic
attraction. Anion associated with clay in this manner are readily removed by
increasing the pH or by leaching with NaCl or NH4Cl. The fact that
very little humic material can be recovered from soils by these treatments
suggest that most of the adsorbed organic matter is retained by supplementary
machanisms. Coordination or ligand exchange occurs when the anionic group
penetrates the coordination shell of Al or Fe and becomes icorporated with the
surface OH layer. The sorption of fulvic acid on oxide surfaces is accompanied
by displacement of OH groups by COO- ions. The organic anion is not
easily displaced with simple salts, although adsorption is pH sensitive. As was
the case with organic cations on clay mineral surfaces, a very strong bond will
result if more than one group on the humic molecule participates.

Adsorption on interlamellar
spaces of clay minerals
An important mechanisms for retention of proteins and charged organic cations
by expandable-layer silicates is through adsorption on interlamellar spaces.
Considerably contrversy exist as to whether humic and fulvic acids are bound in
this way in the natural soil. Evidence for interlamellar adsorption of fulvic
acid by montmorillonite at pH < 5.5 has been given by Schnitzer and Kodama
and Theng. The high - molecular - weight humic acids may be too large to
penetrate interlamellar spaces.
V. PERTUKARAN KATION
Adsorpsi
(adsorbat, adsorben dan adsorptif)
Adalah akumulasi suatu senyawa atau bahan pada titik
singgung antara permukaan padatan dan larutan yang membasahinya. Proses ini
sangat penting karena menentukan jumlah unsur hara, logam, pestisida dan
senyawa organik lain yang di tahan oleh permukaan tanah.
Gugus Fungsional
Permukaan.
Komponen penting koloid inorganik dan organik yang
berperanan dalam proses pertukaran atau adsorpsi kation/anion adalah:
1.
Permukaan lempung:
a.
Permukaan yang terbentuk terutama oleh rangkaian
Si-O-Si (ikatan siloksan) dari tetrahedron silika. Contoh: pada lempung tipe 2:1
b.
Permukaan yang terbentuk oleh rangkaian O-Al-OH dari oktahedron alumina.
Contoh: pada senyawa oksi-hidroksida, kaloinit 1:1
c.
Permukaan yang terbentuk oleh rangkaian -Si-OH (gugus silanol) atau –Al-OH
(gugus aluminol) dari senyawa amorf. Contoh: pada gel silika amorf dan allofan.
2. Gugus fungsional
asam, netral dan basis dari senyawa-senyawa organik (Karboksil, karbonil,
fenolik, aldehid, amin dll).
Gugus fungsional dp
terprotonasi atau deprotonasi melalui penjerapan H+ dan
![]()
S-OH + H+ S-OH2+
![]()
S-OH S-O- + H+
S =
Loka asam Lewis (Lewis acid sites)
OH di permukaan yang kehilangan
proton = Basa Lewis
Loka
asam Lewis tidak hanya oksida-oksida logam, yang lain yaitu: gibsit, goetit,
pinggir mineral kaolinit, gugus OH yang berikatan tunggal pada pinggir mineral
lempung.
Interaksi
antara suatu gugus fungsional permukaan dg suatu ion atau molekul yang ada
dalam larutan tanah akan membentuk suatu kesatuan molekul yang stabil yang
disebut kompleks permukaan. Ada 2 tipe kompleks permukaan yang terbentuk yaitu outer-sphere dan inner-sphere. Bila
diantara gugus fungsional permukaan dan ion atau molekul yang terikat terdapat
air, kompleks permukaan ini disebut outer-sphere. Bila tidak ada air maka disebut
kompleks inner-sphere. Kompleks inner-sphere ini dp berupa monodentat (logam
diikat oleh hanya satu O) dan bidentate (logam diikat oleh 2 O).
Kompleks outer-sphere melibatkan
ikatan elektrostatik (coulombic), sehingga lebih lemah dibandingkan kompleks inner-sphere yang mempunyai
ikatan kovalen atau ionik. Kompleksasi outer-sphere merupakan proses cepat dan
bersifat dp balik (reversible) serta adsorpsi yang terjadi melalui mekanisme
ini dipengaruhi oleh kekuatan ion (ionik strength) dari larutannya. Adsorpsi
model ini terjadi hanya pada permukaan yang memiliki muatan berlawanan dg
adsorbatnya.
Kompleksasi
inner-sphere biasanya lebih lambat dan sering tidak dapat balik (not
reversible) serta pengaruh ionic strength larutannya relatif lemah. Disamping
itu adsorpsi ion melalui kompleksasi inner-sphere dp terjadi tanpa memandang
muatan permukaan. Kedua proses ini dp berjalan secara bersama-sama.
Kemampuan
suatu tanah untuk menjerap dan menukarkan kation disebut Kapasitas Pertukaran
Kation (cation exchange capacity).
Satuannya cmol/kg atau meq/100 g atau meq %. Nilai KPK tanah bervariasi menurut
tipe dan jumlah koloid (mineral lempung dan organik) yang ada dalam tanah.
Fenomena jerapan dan pertukaran kation atau anion ini penting dalam kaitannya
dg serapan hara oleh tanaman, kesuburan tanah, retensi hara, dan pemupukan.
|
Macam
Koloid Tanah |
KPK
(meq/100 g) |
|
Humus Vermikulit Montmorillonit Illit Kaolinit Sesquioksida |
200 100-150 70-95 10-40 3-15 2-4 |
Kation yang berbeda memliki
kekuatan untuk menukarkan kation lain yang terjerap berbeda pula. Contoh: Ba2+ dan NH4+.
Persamaan Empiris Pertukaran Kation atau Isoterm adsorpsi.
Ada
4 tipe umum isoterm adsorpsi yaitu S, L, H dan C.


![]()

![]()
![]()
![]()
Kurva-S Kurva-L
Kurva-H Kurva-C
Kurva S: Jml yang terjerap pada
awalnya meningkat dg meningkatnya kadar ion dalam larutan, kemudian turun dan
menjadi nol atau landai setelah ruang kosong dalam adsorban sudah terisi. Tipe ini menunjukkan pd kadar rendah,
permukaan memiliki affinitas rendah dan meningkat saat kadar meningkat.
Kurva L: dicirikan oleh slope yang
menurun saat kadar meningkat, karena jumlah loka jerapan yang kosong menurun
akibat terisi oleh adsorbat. Prilaku jerapan semacam ini berkaitan dg tingginya
affinitas adsorben untuk menjerap pd kadar rendah, kemudian mengalami penurunan
saat kadar naik.
Kurva H: menunjukkan interaksi yang
kuat antara adsorben dan adsorbat yang kuat, misalnya pada kompleksasi
innersphere.
Kurva C: menunjukkan adanya mekanisme penyekatan dg cara ion atau molekul yang
terjerap didistribusikan atau disekat diantara fase titik singgung (interface)
dan fase larutan tanpa ada ikatan tertentu antara adsorben dan adsorbat.
Mekanisme penyekatan (partitioning) biasanya dilihat dari isoterm jerapan yang
linear, adsorpsi/desorpsi yang dapat balik, suhu berpengaruh kecil pd jerapan,
dan tidak ada kompetisi ketika bahan lain ditambahkan. Koefisien partisi (Kp)
diperoleh dari persamaan:
q = KpC q =
jumlah yang terjerap, mol/kg
C = kadar dalam kondisi
setimbang.
Kp= Nilai rasio jumlah bahan yang terjerap/jumlah bahan yang ada
dalam larutan.
1. Persamaan
Freundlich: x = kC1/n
x = Jumlah kation yang
terjerap per satuan absorben (mol/kg) C= Kadar kation yang ditambahkan pd
kondisi setimbang (equilibrium) (mol/lt)
k, n =
konstanta
Bila dilogkan persamaan tersebut menjadi log x =
1/n log C + log k.
Nilai 1/n = slop atau kemiringan, log k =
intersepsi. Bila 1/n = 1, maka persamaannya menjadi x = kC,
dimana k = koefisien partisi.
Kelemahan persamaan ini tidak dapat menduga nilai jerapan
maksimum (adsorption maximum). Nilai 1/n dan k sering digunakan untuk membuat
kesimpulan tentang mekanisme jerapan, tetapi banyak para ahli meragukan
kesohehannya.
Catatan:
Persamaan ini ada yang menulis sbb: q =KdC1/n
(q=x)
2.
Persamaan Langmuir: x/xo = (kC)/(1+kC)
x =
Jumlah kation yang terjerap per satuan berat penukar (q)
xo=
Kapasitas pertukaran total
C=
Kadar kation yang ditambahkan dalam mole/lt
k=
koefisien affinitas
Persamaan
ini ditemukan Irving Langmuir (1918) untuk mendeskripsikan jerapan molekul gas
pada permukaan rata (planar). Olsen dan Watanabe (1957) menggunakannya untuk
mendeskripsikan jerapan fosfat pd tanah. Asumsi untuk persamaan ini:
(1). Jerapan terjadi pada permukaan yang rata (planar) dan memiliki
sejumlah loka penjerap yang mirip dan loka tersebut hanya dp memegang satu
molekul saja.
(2). Jerapan bersifat dapat balik (reversible)
(3). Tidak ada gerakan lateral dari molekul pada permukaan.
(4). Energi jerapan sama untuk semua loka dan tidak ada interaksi antar
molekul adsorbat (adsorbat berprilaku ideal).
Persamaan di atas ada yang menulis sbb:
q =kCb(1+kC), kalau dibuat linear menjadi C/q =1/kb + C/b. Dengan mengeplotkan antara menjadi C/q vs C diperoleh kemiringan nilai 1/b dan nilai intersepsi 1/kb.
Persamaan
Langmuir dapat dipecah menjadi 2 untuk menunjukkan 2 loka (sites) sbb: b1k1C
b2k2C
![]()
q = +
1 + k1C
1 + k2C
Subscrip
1 dan 2 menunjukkan loka 1 dan 2, masing-masing mengindikasikan adanya jerapan
pd loka dg energi tingi dan rendah. Persamaan ini cukup sukses untuk
mendeskripsikan jerapan pada tanah dengan sifat fisiko-kimia dan mineralogi
yang berbeda.
PERSAMAAN
HUKUM AKSI MASSA DARI PERTUKARAN KATION
Persamaan Kerr.
![]()
1 Na+ + Ca-tanah (Na)2-tanah +
Ca2+
[Na+]2(Ca2+) [Na+](ÖCa2+)
![]()
Kesetimbangan dinyatakan sbb: = k
=
[Ca2+] (Na+)2 [ÖCa2+](Na+)
Persamaan Gapon
Tanda
[] : ion yang terjerap, ( ) : ion bebas dalam larutan.
Persamaan Vanselow.
[Na+]
Proporsi Na yang terjerap =
[Na+ + Ca2+]
[Ca2+]
Proporsi Na yang terjerap =
[Na+ + Ca2+]
Persamaan
di atas dp disubtitusikan ke persamaan Kerr ! diperoleh persamaan Vanselow:
[Na+]2[Ca2+]
Proporsi Na yang terjerap = =
k
(Ca2+)
[Na+ + Ca2+](Na+)2
Persamaan
berdasarkan Teori Donan
Larutan d Larutan
l
Na+ Na+
Cl- Cl-
Lempung-Na
Selaput semipermiabel
Pada
ekuilibrium reaksi dp dipertahankan sbb: (Na+)d( Cl-)d
= (Na+)l( Cl-)l atau
(Na+)d (Cl-)l
![]()
=
(Na+)l (Cl-)d
Sistem
Donnan dijumpai dalam tanah, khususnya penting dalam hubungan tanah-akar
tanaman. Prinsip ini sama dg hukum aksi massa, yaitu:
[Na+]2[Ca2+] [Na+] [ÖCa2+]
![]()
![]()
=
1 atau =
(Na+)2 [Ca2+] (Na+) (ÖCa2+)
Persamaan
Erickson menggabungkan Teori Donnan dan Vanselow, yaitu:
[Na+]2(Ca2+)(C)
= =
k
(Na+)2[Ca2+][Na+ + Ca2+]
C =
kapasitas pertukaran koloid.
Hukum
Rasio Schofield
Diperoleh
dg mengatur kembali persamaan Gapoon.
(Na+) [Na+]
![]()
[Na+](ÖCa2+) = k [ÖCa2+] (Na+) atau = 1/k
(ÖCa2+)
[ÖCa2+]
Persamaan
ini menunjukkan pada kondisi kesetimbangan, rasio kation-kation dalam larutan
tergantung pada rasio kation-kation yang terjerap pd permukaan koloid. Jika
jumlah kation terjerap tidak berubah, rasio kation-kation dalam larutan tetap,
(Na+)/(ÖCa2+).
1.
Jelaskan komponen-komponen atom
menurut Thomson dkk?
2.
Apa yg dimaksud kation dan anion ?
3.
Apa yg dimaksud berat equivalent?
4.
Hitung berat equivalent pd reaksi
H3PO4 3H+ + PO43-
5.
Reaksi oksidasi kromat
6.
Apa yg dimaksud normalitas, ikatan kovalen. Ikatan ionic, dam elektronegativitas
7.
Apa makna nilai konstante dissosiasi (K) > 1, <1 atau samadengan 1?
8.
Hitung nilai N pada reaksi 2NaOH + H2SO4?
9.
10.
Si tertrahedra memiliki struktur siklosilikat,
filosilikat dan tektosilikat artinya apa ?
11.
Sebut 4 ciri
kaolinit, montmorilonit, illit, vermikulit dan klorit
12.
Masing2 lmp pada
soal no 11 banyak ditemui pada tanah apa ?
13.
Ada 2 subkelompok
lempung kristalin, sebutkan ?
14.
Sebutkan kelumpok
mineral yg termasuk sesquioksida?
15.
Apa
perbedaan dampak dari tanah yang didominasi oleh lempung kaolinit dan
montmorillonit terhadap sifat kimia tanahnya.
16.
Jelaskan perbedaan
lempung montmorillonit, illit dan vermikullit
17.
Jelaskan perbedaan allofan dan kaolinit
18.
Apa yang dimaksud istilah2 berikut ini: interstratified clay mineral,
muatan terubahkan, muatan permanen, ∆ pH?
19.
Jelaskan faktor2 yg mempengaruhi
kandungan BO tanah
20.
Jeaslkan
gusgus fungsional pada BO dan mineral lempung (kaolinit, montmorillonit,
senyawa hidrooksida dan allofan)
21.
Apa yg
dimaksud senyawa humat, asam humat dam asam fulvat?
22.
Sebutkan 5 sifat kimia bahan organic?
23.
Jelaskan ikatan2 yg
membentuk kompleks lempung-organik?
24.
Apa yg
dimaksud kompleks outer-sphere dan innerspehere?
25.
Gambarkan 4 tipe isoterm jerapan kation pada
lempung?
26.
Jelaskan perbedaan
dari persamaan Freundlich dan Langmuir?
27.
Tuliskan persamaan
Gapon dan Teori Donan